Judul : Jingga Senja

Nama : Em Erifah

Warna jingga menyapa mata, kala sang mentari berusaha menyembunyikan diri. Sisa sinarnya memberikan cahaya temaram di pinggir kota. Elusan angin ikut menyapa, mengelus lembut pipi, dan mengusak rambut yang tak terlindungi. Ditatatapnya manik cokelat seorang yang berdiri di depannya. Hanya berjarak sekian langkah, sedikit lagi mereka tak akan punya jarak.
“Kenapa datang lagi? Tak cukupkah kau menyakitiku? Tak bisakah kau benar-benar pergi dari hidupku? Aku sudah cukup banyak membuang air mata, kala pergimu. Apakah kini aku perlu menangisi keberadaanmu yang merusak jalanku untuk melupakanmu?” tanyanya lemah.
Seorang yang di depannya terdiam. Tak berniat menjawab. Benar, sudah sangat lama itu berlalu. Namun, rasa sakit hati memang tak bisa dihilangkan dengan cepat, bahkan bisa saja akan terus bertahan.
“Senja selalu mengingatkanku akan renjana. Namun, aku sadar renjana itu hanya akan menyakiti, jadi aku lebih memilih melupakannya. Sekarang kau datang dengan santainya, dan membuatku harus kembali menatap senja yang sama. Kenapa?” Kini gadis itu mulai terisak. Air matanya mengalir, sejalan dengan rintik hujan yang tiba-tiba membasahi diri mereka. Tak ada keinginan untuk menyingkir, meski kini menjadi tontonan gratis pengguna jalanan.
Pria itu menghela napas lemah dan berkata, “Senja juga mengingatkanku pada renjana. Aku datang untuk menghapus renjana itu. Meski aku tahu, sakit hati itu masih tertanam. Aku tak berharap kau memaafkanku. Namun, bolehkah? Bolehkah aku memberi warna baru pada senja, agar tak lagi menjadi renjana yang menyakiti?”
“Apa maksudmu?” Tanda tanya besar muncul di benak gadis itu. Mengapa pria itu berbicara sedemikian rupa?
“Jadikan senjamu ceria, jingganya bukan untuk ditangisi, jingganya hanya untuk senyum bahagia. Tertawalah, cari kebahagiaanmu!” Pria itu berkata dengan menatap nanar senja. Tak ada sedikit pun keinginan membalas tatapan orang yang sejak tadi ada di depannya.
“Tapi bahagiaku adalah dirimu. Tak bisakah kau mengerti?” Tuntut si gadis, memohon dimengerti.
“Aku bukan bahagiamu, aku penyebab sedihmu. Aku pamit,”
Gadis itu terdiam di tempat. Memandangi punggung lebar seorang pria yang sudah membuatnya terhuyung-huyung. Seindah ini perjalanan cintanya. Sebahagia ini kisah cintanya. Seceria ini kehidupannya.
“Aku tak menuntutmu menjelaskan kepergian sebelumnya, tapi bisakah kali ini kau ada di sisiku?” teriaknya dengan keras. Berharap pria itu mendengarnya, kemudian berbalik dan memeluknya seperti dulu. Munafik jika ia berkata tak ingin bertemu. Berdusta jika ia ingin melupakan. Nyatanya, ia ingin semua ini kembali seperti semula. Seperti masa bahagia mereka, sebelum pria itu tiba-tiba menghilang dari peradaban tanpa kabar.
“Aku juga tak ingin menjelaskannya, tapi aku selalu ada di sisimu,” balas pria dengan senyuman yang tak bisa diihatnya.
*
Aku tersadar dari lamunan masa laluku. Air mataku kembali menetes di senja. Benar katanya, aku harus bahagia. Benar katanya, dia selalu ada di sisiku. Kusentuh dada kiriku, di sana berdetak dengan keras.
“Jantungmu berdetak kencang di sini. Sama kencangnya saat kita bertemu. Sama kencangnya pertama kali kau menjadikanku milikmu. Sama seperti kau berkata aku hidup dan matimu. Terima kasih selalu ada di sisiku. Aku akan menikmati jingga senja dengan ceria dan bahagia, aku janji!” ucapnya lirih dengan senyuman tulus.
*
“Jadikan senjamu ceria, jingganya bukan untuk ditangisi, jingganya hanya untuk senyum bahagia. Tertawalah, cari kebahagiaanmu!”
Sukoharjo, 17 Februari 2020
Karya lainnya bisa cek di instagram ataupun klik ini